Memahami Sisi Gelap Toxic Positivity Untuk Kesehatan Mental

Memahami Sisi Gelap Toxic Positivity Untuk Kesehatan Mental

Pasti Anda tahu bahwa memiliki citra positif di depan orang lain baik untuk kesehatan mental diri. Namun, masalahnya adalah hal buruk pasti menimpa Anda sehingga Anda akan bergelut dengan emosi dan pengalaman yang menyakitkan. Dan tanpa Anda sadari, Anda berusaha menekan rasa sakit itu dengan melakukan toxic positivity.

Gampangnya, toxic positivity adalah tindakan yang membuat Anda ber-positive thinking di semua momen dan emosi, baik suka maupun duka. Padahal emosi-emosi tersebut, meskipun seringkali tidak menyenangkan, sangat penting dan perlu Anda rasakan lalu atasi secara terbuka dan jujur. Jika Anda sepelekan, sewaktu-waktu Anda bisa tiba-tiba stres, depresi, suasana hati mudah memburuk, hingga parahnya memicu penyakit yang hanya muncul saat stres.

Artikel kali ini akan membahas sisi gelap dari tren toxic positivity yang di satu sisi akan memberi Anda penguatan namun perlahan akan merugikan Anda.

Definisi Toxic Positivity

Selama beberapa dekade, beberapa buku dan media populer fokus dengan nilai potensial dari berpikir positif alias positive thinking. Dan bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan melakukan positive thinking dapat meningkatkan kesehatan mental. Tak hanya itu, bagi Anda yang menunjukkan harga diri (self esteem) yang tinggi dapat mendukung pikiran positif, mengurangi risiko munculnya niatan dan perilaku untuk bunuh diri.

Kendati demikian, bila Anda terlalu sering atau keliru dalam menerapkan pola pikir positive thinking tersebut, Anda akan memiliki kecenderungan toxic positivity. Berbeda dengan body positivity, kami mendefinisikan toxic positivity sebagai tindakan yang berlebihan dan tidak efektif untuk berada dalam keadaan bahagia dan optimis di semua situasi.

Dari definisi itu saja sudah terlihat bahwa tindakan toxic semacam itu tidak baik untuk kesehatan tubuh dan mental. Sebab, tindakan tersebut dapat membungkam emosi negatif, merendahkan diri (self deprecation) dan kesedihan, dan menekan diri Anda untuk pura-pura bahagia bahkan ketika Anda sedang berkabung atau berjuang. Proses hasil toxic positivity yang akan Anda rasakan adalah sikap penolakan, membatasi tindakan diri, dan mengindahkan pengalaman emosional manusia yang seharusnya Anda rasakan.

Baca Juga:

 

Contoh Tindakan Toxic Positivity

Contoh Tindakan Berpositive Thinking

Pada dasarnya, siapa pun bisa melakukan tindakan berusaha positif yang kurang baik ini. Baik itu orang tua Anda, teman, pasangan, hingga bahkan diri Anda sendiri bisa berucap atau bertindak toxic pada diri Anda.

Berikut ini beberapa contoh toxic positivity yang tak patut Anda lakukan hingga biasakan.

  1. Memberi tahu seseorang yang baru saja kehilangan orang yang dicintai karena meninggal untuk tabah, kuat, atau kata-kata “penguatan” sejenisnya. Pada dasarnya tindakan tersebut tidak salah, tapi alih-alih mengatakan itu, beri orang tersebut ruang untuk bersedih secukupnya.
  2. Memotivasi orang yang sehabis dilanda musibah atau masalah dengan kata-kata “semua ada hikmahnya”. Memang, semua hal buruk pasti terjadi karena ada sebabnya. Tapi, Anda bisa memotivasi orang tersebut dengan cara menawarkan bantuan apakah ia membutuhkan sesuatu. Dengan begitu, rasa peduli Anda lebih terbukti nyata, tanpa ada gimmick.
  3. Menyuruh seseorang untuk melupakan kesedihan atau penderitaannya dan fokus pada hal-hal baik dalam hidup mereka. Misalnya dengan kata-kata “nanti juga akan lewat, tenang saja”. Padahal, dengan semakin berusaha melupakan sesuatu, pasti orang itu akan ingat kesedihannya terus. Oleh karena itu, motivasilah bahwa mereka sudah hebat dan nantinya mampu melaluinya kelak.
  4. Mendesak orang untuk berkembang tidak peduli kesulitan apa pun yang mereka hadapi. Seperti dengan memberi tahu orang lain bahwa mereka harus menggunakan waktu luang di rumah selama pandemi COVID-19 untuk tetap produktif mengembangkan keterampilan baru atau meningkatkan kebugaran mereka. Padahal waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk istirahat lebih.
  5. Menyingkirkan kekhawatiran seseorang dengan mengatakan, “bersyukurlah, bisa jadi Anda mengalami hal yang lebih buruk”. Ucapan tersebut membuat Anda terlihat tidak peduli. Alih-alih demikian, tawarkan diri bahwa Anda bisa menjadi teman curhat yang akan mendengar keluh kesahnya.

 

Efek Samping Toxic Positivity

Efek Samping Berpositive Thinking Terus-Terusan

Apabila Anda termasuk orang yang percaya bahwa Anda harus positive thinking, maka bisa jadi Anda akan mengabaikan masalah serius atau tidak mengatasi masalah kesehatan mental yang mendasarinya. Demikian pula, jika Anda termasuk orang yang menuntut kepositifan dari orang lain, mungkin tidak bisa memberikan dukungan yang cukup kepada orang lain. Atau terkadang membuat orang lain tersebut merasa distigmatisasi dan dihakimi.

Beberapa efek samping membiasakan toxic positivity adalah:

Baca Juga:

 

1. Menghindari Luapan Bentuk Emosi Manusia yang Sebenarnya

Sejatinya toxic positivity berfungsi sebagai mekanisme penghindaran. Misalnya, ketika Anda terlibat dalam tindakan atau perilaku tertentu, Anda mungkin akan menghindari situasi emosional yang mungkin membuat Anda merasa tidak nyaman. Ketika Anda merasakan emosi yang sedih dan sulit, Anda akan terus mengabaikan dan menyangkalnya.

2. Kesulitan Bersosialisasi

Toxic positivity membuat Anda tidak bisa jujur mengungkapkan apa yang Anda rasakan. Karena pada dasarnya Anda menutupi perasaan dan memilahnya agar Anda hanya menunjukkan sisi terbaik diri Anda.
Akibat sikap tidak jujur ini, Anda tidak berani cerita dan bersosialisasi dengan orang lain. Tak heran jika siapa pun dengan kebiasaan tindakan ini lebih introvert atau tidak bisa memiliki hubungan sehat dengan pasangan.

3. Mudah Stres dan Cemas

Dari dua poin sebelumnya, semua akan berakhir dengan timbulnya stres dan atau kecemasan. Orang dengan tindakan toxic ini akan menekan segala perasaan negatifnya sehingga menjadi overthinking, gelisah, dan was-was. Ia takut tidak bisa tampil terbaik sesuai ekspektasi orang. Akibat dari stres juga tak main-main, misalnya Anda jadi susah tidur, tidak memiliki nafsu makan, penurunan berat badan, hingga berujung sakit.

Cara Menghindari Toxic Positivity

Cara Menghindari Toxic Positivity

Apabila Anda sudah merasa terpengaruh oleh hal-hal toxic semacam ini, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengembangkan sisi terbaik Anda yang lebih sehat dan lebih suportif. Cobalah beberapa cara mudah versi kami berikut ini.

1. Kelola Emosi

Cara pertama yang susah-susah gampang adalah mengelola segala bentuk emosi negatif Anda, dengan syarat jangan menyangkalnya. Emosi negatif pada tubuh dapat menyebabkan stres jika Anda tidak mengendalikan diri (self control) sebagaimana mestinya. Keluarkan rasa senang, sedih, marah, kecewa, antusias, atau khawatir sehingga tubuh dan pikiran lebih rileks dan merasa hidup jadi lebih mudah.

2. Jujur dan Realistis Dengan Perasaan

Selanjutnya, yang tak kalah penting, berusahalan bersikap jujur dan realistis tentang apa yang Anda rasakan saat itu. Misalkan, saat Anda menghadapi kondisi yang stressful, wajar jika Anda merasa stres, cemas, takut, atau khawatir. Tak perlulah untuk memasang ekspektasi dan harapan tinggi pada diri sendiri. Pahami apa kebutuhan tubuh dan pikiran Anda kala itu, contohnya memahami kebutuhan tidur, kapan harus mulai waktunya tidur, apakah tubuh Anda butuh relaksasi dengan mandi air hangat atau tidak, dan lain sebagainya.

3. Hindari Membanding-Bandingkan

Masalah utama seseorang dengan toxic positivity adalah mencari bentuk motivasi dari banyak orang atau sumber. Otomatis Anda akan melihat pencapaian orang lain sehingga overthinking membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang memicu emosi iri, sedih, insecure, dan overthinking. Oleh karena itu, temukan sumber motivasi yang benar-benar membuat Anda jadi lebih tenang, misalnya bermeditasi, menghirup wewangian aromaterapi, merawat hewan atau tanaman hias, dan aktivitas menenangkan lainnya.

Bila disimpulkan, toxic positivity mendorong orang untuk mengabaikan emosi yang sulit. Meskipun positive thinking memiliki beberapa manfaat, Anda tidak bisa berpikir positif sepanjang waktu.

Dan juga memaksa seseorang untuk mengekspresikan hanya emosi positifnya dapat melumpuhkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan orang lain dan membuat mereka merasa buruk tentang diri mereka sendiri karena memiliki pikiran negatif (self gaslighting).

Menjadi manusia yang sehat melibatkan kesadaran akan diri (self awareness) dan bagaimana Anda berharga di dunia ini. Jika Anda merasa diri Anda sebagai penyebar toxic positivity, inilah saatnya untuk segera menghentikannya.

Anda telah menyakiti diri sendiri dan orang-orang yang paling Anda sayangi dengan bersikeras pada pola pikir monokromatik ini. Anda harus menyeimbangkan ketenangan jiwa dan bersedia menerima emosi baik dan buruk.

Baca Juga:

Subscribe Now!

Dapatkan beragam informasi produk dan artikel menarik Sleep Buddy melalui email Anda. Subscribe sekarang untuk dapatkan promo dan diskon spesial!

About author

Share

Hi! You can call me Dania. I'm just an ordinary girl who loves lemon tea, Korean dramas, and writes blogs about beauty, healthy tips, and fashion.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *