7 Jenis Gangguan Tidur Paling Berbahaya, Sleepwalking Hingga Sindrom Kematian Mendadak

7 Jenis Gangguan Tidur Paling Berbahaya, Sleepwalking Hingga Sindrom Kematian Mendadak

Ada berbagai macam gangguan tidur yang kerap dialami oleh banyak orang. Misalnya sulit tidur atau insomnia, hipersomnia, mengigau saat tidur, mendengkur atau ngorok, dan masih banyak lainnya. Namun, di antara berbagai gangguan tidur tersebut, terdapat beberapa jenis gangguan tidur yang berbahaya. Bukan hanya membahayakan penderitanya, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.

Gangguan tidur ini termasuk dalam jenis parasomnia, yaitu gangguan yang menyebabkan penderitanya melakukan tindakan atau perilaku abnormal saat terlelap. Perilaku abnormal ini bisa saja mencelakai orang lain dan membahayakan diri sendiri apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat. Apa saja gangguan tersebut?

1. REM Sleep Behavior Disorder

Yang pertama adalah REM Sleep Behavior Disorder. Ini merupakan kelainan tidur di mana penderitanya cenderung melakukan tindakan “brutal” seperti menendang dan memukul saat tidur. Inilah alasan kenapa gangguan tidur yang satu ini sangat berbahaya.

REM Sleep Behavior Disorder (RBD) adalah kelainan tidur yang sangat berbahaya bagi orang lain daripada penderitanya. Hal tersebut karena penderita kelainan tidur ini akan memeragakan apa yang ada dalam mimpinya di dunia nyata. Bisa saja dia memukul orang lain secara tidak sadar atau melakukan hal-hal lain yang lebih dari itu.

Salah satu ciri khas dari RBD adalah pengidapnya mampu mengingat mimpinya, di mana biasanya mimpi tersebut berisi tentang kekerasan. Sehingga wajar apabila kelainan tidur ini dapat melukai orang lain yang tidur di samping penderita.

Kondisi ini paling sering terjadi setelah fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Menariknya, penderita cenderung tidak akan menyadari perilaku yang ia alami tersebut, bahkan tak mengingatnya. Biasanya, seseorang membutuhkan stimulus yang kuat agar bisa terbangun dan sadar akan kondisi ini.

Beberapa penyebab terjadinya kondisi ini antara lain faktor genetik, efek samping obat-obatan, mengalami PTSD (post traumatic stress disorder), hingga merupakan akibat dari stres yang tinggi dan ketidakmampuan dalam memanajemen atau menghilangkan stres.

Kelainan tidur ini bisa menjadi lebih buruk apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat seiring dengan berjalannya. Sebab, kelainan tidur ini erat kaitannya dengan kondisi neurologis. Misalnya menyebabkan pernapasan tidak teratur, otak menjadi sangat aktif, dan tekanan darah meningkat selama terjadinya RBD.

2. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

jenis gangguan tidur obstructive sleep apnea

OSA atau Obstructive Sleep Apnea adalah kondisi di mana pernapasan seseorang terhenti sementara selama beberapa kali saat tengah tertidur. Biasanya, penderita akan berhenti bernapas sekitar 10 detik saat tertidur dan bisa berkali-kali terjaga atau terbangun saat tidur.

Apabila terjadi secara terus menerus, maka kondisi ini akan sangat berbahaya karena dapat membuat tubuh kekurangan oksigen. Hal ini karena adanya obstruksi jalan napas akan menyebabkan pernapasan terhenti.  Biasanya, gangguan ini muncul dengan tanda mendengkur saat tidur atau merasa mengantuk meskipun tidur terlalu lama.

Jika terus dibiarkan berlarut-larut, maka kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas tidur dan memicu berbagai macam penyakit berbahaya akibat gangguan tidur serta memberikan efek buruk pada otak karena kebutuhan tidur yang tidak tercukupi.

Penyebab kondisi OSA antara lain karena posisi tidur yang salah, kurang tidur, mengonsumsi rokok dan alkohol secara berlebihan, faktor usia (biasanya risiko obstructive sleep apnea lebih tinggi seiring bertambahnya umur), obesitas, serta jenis kelamin (lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita).

Gangguan tidur ini bisa Anda atasi dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan diet sehat atau minum minuman diet sebelum tidur, posisi tidur yang baik misalnya tidur miring ke kanan atau ke kiri (hindari tidur telentang), mencukupi waktu tidur ideal, hingga mencegah penyebab alergi sebab OSA juga bisa dipicu alergi debu.

Baca Juga :

 

3. Tidur Sambil Berjalan atau Sleepwalking

Sleepwalking alias tidur berjalan menjadi salah satu jenis gangguan tidur yang harus Anda waspadai. Sebab, gangguan tidur ini bisa menyebabkan penderitanya terluka dan mengalami cedera tanpa sadar. Karena seperti namanya, gangguan ini akan menyebabkan seseorang tidur sambil berjalan tanpa ia sadari. Bisa saja penderitanya tanpa sengaja jatuh dari tangga, menabrak benda berbahaya, atau bahkan tertimpa benda berat.

Perlu Anda ketahui hal ini terjadi karena orang yang mengalami tidur sambil berjalan tidak memiliki kendali atau self control atas tubuh dan apa yang ia lakukan. Sehingga, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian khusus dan penanganan yang tepat. Kondisi ini biasanya terjadi saat seseorang berada di fase tidur dalam, ke tahap yang lebih ringan atau tahap sadar.

Sleepwalking biasanya muncul pada awal tidur malam, sering kali 1-2 jam setelah tidur dan jarang terjadi saat tidur siang. Biasanya, tidur sambil berjalan dapat berlangsung beberapa menit atau lebih. Orang yang yang mengalami gangguan tidur sleepwalking biasanya tidak dapat merespons, bahkan tidak mengingat kejadian apapun yang ia alami selama kondisi tersebut.

Penyebab sleepwalking antara lain karena pola tidur yang berantakan, efek samping konsumsi obat-obatan tertentu (seperti hipnotik short-acting, obat penenang, atau kombinasi berbagai obat untuk gangguan kesehatan mental dan gangguan psikologis yang bisa memberi efek samping tak terduga), stres berat, kelelahan, gangguan kecemasandepresi, konsumsi alkohol berlebih, hingga faktor genetik atau keturunan.

Selain itu, kondisi kesehatan atau medis juga turut berpengaruh pada munculnya kelainan tidur yang satu ini. Misalnya orang yang memiliki riwayat restless legs syndrome, GERD, gejala maag, migrain, penyakit tiroid, cedera kepala, hingga stroke.

4. Teror Tidur atau Night Terror

jenis gangguan tidur night terror

Night terror atau teror tidur adalah gangguan tidur yang membuat penderitanya seperti mendapatkan “teror” saat tertidur. Biasanya, penderita akan terbangun, menjerit, hingga bisa mengalami serangan panik. Namun saat terbangun, umumnya penderita teror tidur ini sama sekali tak mengingat apapun.

Gangguan ini biasanya sering disamakan dengan nightmare atau mimpi buruk. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda. Mimpi buruk terjadi ketika seseorang sudah memasuki fase tidur lelap. Sedangkan teror tidur bisa terjadi saat seseorang hendak tidur, sudah lelap, atau bahkan saat bangun.

Kondisi ini termasuk langka, dan lebih umum terjadi pada anak-anak dengan rentang usia 4-12 tahun. Sejumlah penyebab teror tidur di antaranya adalah stres berat, kelelahan ekstrem, hingga memiliki riwayat PTSD atau pengalaman traumatis lainnya.

Beberapa risiko bahaya akibat night terror antara lain membuat penderitanya kerap merasa mengantuk berat saat siang hari, sehingga dapat menurunkan tingkat produktivitas di tempat kerja maupun sekolah, berisiko mengalami cedera atau melukai orang lain secara tidak sadar. Sebab, penderita teror tidur bisa menggerakkan tangan dan kaki saat tidur, serta membuat penderitanya merasa malu dan kurang percaya diri. Bahkan dapat menyebabkan berkurangnya self love dan self worth, serta meningkatkan self deprecation

Selain itu, penderita night terror biasanya sering terbangun sambil berteriak dan bisa langsung menangis.Di sisi lain, sejumlah ahli juga percaya bahwa jenis gangguan ini terkait langsung dengan sistem saraf pusat dan otak manusia.

Baca Juga :

 

5. Kelumpuhan Tidur atau Sleep Paralysis

Sleep Paralysis alias kelumpuhan tidur adalah kondisi di mana seseorang tersadar setelah tidur, tapi badan terasa kaku, dada sesak, dan tidak bisa membuka mata. Sehingga, biasanya kondisi ini kerap dikaitkan dengan kejadian mistis. Padahal, kondisi ini sebenarnya dapat dijelaskan secara medis dan dapat diatasi dengan beberapa cara sederhana atau penanganan langsung oleh dokter.

Sleep paralysis sering kali membuat penderitanya panik dan takut karena dalam kondisi sadar, tubuh seakan-akan lumpuh dan biasanya berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.  Gejala sleep paralysis antara lain mengalami kesulitan bernapas karena dada terasa sesak, masih dapat menggerakkan bola mata, mengalami halusinasi seolah-olah seperti ada seseorang atau sesuatu di dekatnya, hingga merasa ketakutan.

Kondisi ini bisa terjadi pada siapa pun, baik orang dewasa maupun anak-anak. Sleep paralysis terjadi karena tubuh akan masuk ke fase pergantian antara tidur NREM (non-rapid eye movement) dan tidur REM (rapid eye movement) saat tidur. Selama fase tidur NREM, tubuh akan sangat rileks karena berada dalam proses pemulihan diri.

Setelah fase tidur NREM berakhir, proses tidur akan beralih ke fase tidur REM. Di fase tidur REM inilah mimpi terjadi. Nah, Anda akan mengalami sleep paralysis jika Anda sadar sebelum fase tidur REM selesai.

Sleep paralysis bisa membuat kualitas tidur seseorang menjadi berkurang. Jika Anda sering mengalami fenomena ini, ada beberapa cara untuk mengatasinya, di antaranya adalah meningkatkan kualitas tidur, menerapkan sleep hygiene atau pola tidur sehat, memperbaiki posisi tidur yang benar, mengurangi stres, hindari konsumsi kafein dan alkohol, serta melakukan meditasi dan relaksasi untuk membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks.

6. Narkolepsi

jenis gangguan tidur narkoleps

Merupakan jenis gangguan tidur yang berbahaya karena dapat memengaruhi produktivitas dan kinerja penderitanya dalam beraktivitas sehari-hari. Narkolepsi adalah gangguan tidur kronis yang ditandai dengan rasa kantuk di siang hari dan serangan tidur yang tiba-tiba. Penderitanya akan merasa sulit untuk tetap terjaga dalam jangka waktu yang lama dan gampang tidur, terlepas dari keadaannya.

Oleh sebab itu, gangguan ini dapat menyebabkan gangguan serius dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Gangguan tidur tersebut dapat disertai dengan gejala lainnya. Yaitu sleep paralysis, halusinasi hipnagogik, hingga katapleksi, yaitu kelemahan atau kehilangan kendali pada otot wajah, leher, dan lutut.

Penderita narkolepsi biasanya akan cenderung benar-benar kolaps saat sedang mengalami ledakan emosi (tantrum), sering mengalami sakit kepala, kecenderungan depresi, dan merasa kelelahan ekstrem. Sebagian besar penderita narkolepsi memiliki kadar hipokretin rendah. Yakni zat kimia dalam otak yang mengendalikan waktu tidur fase REM.

7. Sudden Unexplained Death Syndrome (Sindrom Kematian Saat Tidur)

Jenis gangguan tidur ini adalah salah satu kelainan tidur paling menakutkan. Sindrom kematian saat tidur atau sudden unexplained death syndrome ini hampir serupa dengan SIDS atau sindrom kematian pada bayi. Kondisi ini tiba-tiba terjadi dan tak dapat dijelaskan secara rinci.

Bahkan, terkadang orang yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit apapun juga bisa mengalami sindrom ini. Dalam dunia medis, kelainan ini berhubungan langsung dengan kegagalan jantung dan aktivitas jantung yang tidak teratur saat tidur. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa faktor genetik juga turut berperan pada kondisi ini.

Demikian adalah 7 jenis gangguan tidur berbahaya yang perlu Anda waspadai. Meskipun beberapa gangguan tersebut merupakan hal yang umum dan banyak terjadi, namun langkah antisipasi tetap perlu Anda lakukan guna mencegah risiko buruk yang bisa timbul setelahnya. Apabila Anda sudah mulai merasakan gejala gangguan tidur tersebut, maka segeralah lakukan pencegahan dengan menghindari penyebabnya dan menerapkan pola hidup sehat.

Baca Juga :

Subscribe Now!

Dapatkan beragam informasi produk dan artikel menarik Sleep Buddy melalui email Anda. Subscribe sekarang untuk dapatkan promo dan diskon spesial!

About author

Share

Hi! I'm Nisa. I like exploring words towards writing. I love writing about design inspiration, beauty, lifestyle, and parenting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.