Kenali Gejala Perilaku Antisosial pada Anak Sejak Dini dan Cara Mengatasinya

Kenali Gejala Perilaku Antisosial pada Anak Sejak Dini dan Cara Mengatasinya

Merupakan hal yang normal apabila anak mengalami perubahan perilaku sosial dalam masa tumbuh kembangnya. Hal ini merupakan salah satu cara anak untuk menunjukkan ekspresi dan emosinya. Akan tetapi, apabila anak memiliki kecenderungan untuk bersikap impulsif dan membahayakan orang lain, maka Anda perlu waspada. Sebab, bisa saja ini menjadi gejala perilaku antisosial pada anak.

Mendeteksi perilaku antisosial sejak dini pada anak merupakan hal yang penting untuk Anda perhatikan. Sebab, jika bisa mendeteksinya lebih awal, maka Anda pun bisa melakukan berbagai cara sebagai langkah antisipasi. Hal ini karena sikap antisosial yang tidak mendapatkan penanganan tepat justru akan mengganggu proses tumbuh kembang anak, terutama interaksinya dengan lingkungan sekitar.

Misalnya, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar saat berinteraksi dengan orang lain, hiperaktif, keras kepala dan tidak mempedulikan pendapat orang lain, merasa tidak cocok berada di lingkungan manapun, hingga kecenderungan untuk melakukan tindakan impulsif dan obsesif.

Tentunya Anda tidak ingin hal tersebut terjadi pada buah hati Anda, bukan? Maka dari itu, Anda perlu mengetahui gejala antisosial pada anak sejak dini dan melakukan langkah yang tepat untuk menanganinya.

Apa Itu Perilaku Antisosial?

Perilaku antisosial merupakan salah satu gangguan kepribadian atau personality disorder. Biasanya, antisosial juga dikenal dengan istilah sosiopat atau sociopath. Ini adalah gangguan kesehatan mental yang menyebabkan munculnya sikap mengabaikan hak dan perasaan orang lain.

Biasanya, penderita antisosial akan menunjukkan sikap tidak menghargai mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan ia cenderung lebih memercayai pendapatnya sendiri dan bersikap seenaknya.

Anak yang memiliki gangguan antisosial biasanya akan cenderung gemar berbohong, memperlakukan orang lain dengan kasar, tidak peduli pada perasaan orang lain, sulit mengendalikan maupun mengembalikan mood, dan bersikap memusuhi. Umumnya, mereka juga sama sekali tidak akan merasa bersalah atau menyesal atas perilaku buruk yang mereka lakukan.

Anak antisosial biasanya juga tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya terkait tugas yang dibebankan kepadanya. Baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Sehingga, terkadang mereka mengalami kesulitan dalam proses belajar atau mengikuti instruksi yang diberikan.

Baca Juga:

 

Gejala Perilaku Antisosial

Dari penjelasan di atas, tentunya dapat kita simpulkan bahwa anak yang memiliki sikap antisosial akan cenderung tumbuh sebagai sosok yang bermasalah dan gemar melakukan tindakan kasar atau melanggar aturan. Sehingga, hal ini pun perlu Anda antisipasi sejak dini.

Berikut adalah beberapa gejala lain dari sikap antisosial pada anak yang perlu Anda waspadai :

1. Kecenderungan Melakukan Perilaku Impulsif

Gejala yang pertama adalah kecenderungan untuk melakukan perilaku impulsif yang merugikan. Perilaku impulsif sendiri merupakan kondisi di mana seseorang memiliki keinginan atau dorongan untuk melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan konsekuensinya.

Sikap ini cenderung merugikan orang lain karena kurangnya kepekaan pada kondisi sekitar dan lebih sering mengarah menuju hal negatif. Misalnya melempar barang seenaknya, merusak benda-benda tertentu, atau bahkan melakukan kekerasan seperti menjambak rambut orang lain yang membuatnya kesal.

Kendati tampak kasar dengan perilaku impulsif ini, namun perlu Anda ketahui bahwa anak antisosial sebenarnya memiliki self esteem yang rendah. Mereka juga terkadang merasa tidak memiliki motivasi, kurang mendapatkan apresiasi, dan memiliki perasaan cemas berlebihan yang bisa memicu gangguan kecemasan.

2. Mudah Marah dan Cenderung Agresif

gejala perilaku antisosial pada anak

Gejala selanjutnya adalah anak memiliki karakteristik yang mudah marah dan cenderung agresif, Biasanya, anak antisosial akan berperilaku kasar dan tidak memiliki perasaan.

Sikap ini tentunya berbeda dari ledakan emosi atau tantrum pada anak. Sebab, anak cenderung tidak menunjukkan perasaan lain kecuali marah, perilaku curang, memusuhi, agitasi, dan agresif. Sikap ini tentunya akan membuat anak sulit untuk membangun hubungan sosial dengan orang lain.

Baca Juga :

 

3. Tidak Merasa Bersalah atau Menyesal Atas Tindakan yang Merugikan Orang Lain

Anak antisosial cenderung tidak peka pada perasaan orang lain, sehingga mereka pun tidak merasa bersalah atau menyesal meskipun telah melakukan tindakan yang merugikan

Karena pada dasarnya, antisosial akan membuat anak kurang memiliki rasa empati.. Bahkan, terkadang mereka tidak memiliki self awareness untuk memahami keinginan diri sendiri. Sehingga mereka tidak menunjukkan kepedulian pada lingkungan sekitar

4. Mengabaikan Keselamatan Diri Sendiri Maupun Orang Lain

Gejala yang satu ini berkaitan dengan perilaku impulsif pada anak antisosial. Di mana mereka cenderung melakukan tindakan tanpa memikirkan konsekuensinya. Akibatnya, mereka pun cenderung akan mengabaikan keselamatan diri sendiri maupun orang lain saat bersikap impulsif.

Biasanya, anak antisosial tidak memiliki kontrol diri (self control) yang baik dan bisa melakukan tindakan yang membahayakan dan merusak diri sendiri (self destructive). Misalnya adalah menyeberang jalan seenaknya.

5. Memiliki Riwayat Melanggar Aturan seperti Bolos Sekolah, Mencuri, Bahkan Tindakan Bullying

Anak antisosial memang identik dengan perilaku pemberontak yang gemar melanggar aturan atau hukum. Sehingga, biasanya anak akan terlibat masalah-masalah di sekolah. Contohnya membolos, bersikap nakal dan tidak sopan pada guru, mencuri, vandalisme, hingga terlibat perkelahian atau bahkan bullying.

Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, maka anak yang memiliki perilaku antisosial akan berisiko tinggi melakukan tindak kriminal saat dewasa. Ia bisa saja melakukan tindak kejahatan yang membuatnya dipenjara.

Baca Juga :

 

Bagaimana Cara Mengatasi Perilaku Antisosial pada Anak?

cara mengatasi perilaku antisosial pada anak

Melihat berbagai macam gejala dan dampak negatif yang timbul dari perilaku antisosial, maka pencegahan sejak dini tentunya perlu Anda lakukan sebagai orangtua. Apabila Anda mulai mendeteksi gangguan kesehatan mental pada anak seperti perilaku antisosial, maka segeralah terapkan langkah-langkah berikut ini:

1. Berbicara dengan Anak

Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah berbicara dan berdiskusi dengan anak. Apabila mereka melakukan kenakalan yang melanggar aturan atau merugikan orang lain, maka cobalah untuk mengetahui apa penyebabnya.

Hindari menghukum anak dengan hukuman fisik, sebab hal tersebut hanya akan membuat ia merasa tidak mendapatkan dukungan dan semakin memberontak. Cara terbaik adalah mendekatinya perlahan sampai ia mau membuka diri atau curhat tentang apa yang ia rasakan dan alami.

Sebagai langkah antisipasi, Anda juga bisa menerapkan pola asuh yang tepat pada anak. Sebab, gejala antisosial bisa muncul karena tipe pola asuh yang tidak sesuai. Anda bisa menerapkan pola asuh hypnoparenting, yang dikenal efektif untuk mengatasi anak bermasalah.

2. Berkonsultasi dengan Tenaga Profesional

Jika Anda sudah menemukan indikasi perilaku antisosial pada anak melalui gejala dan dialog secara langsung, maka ada baiknya untuk segera menghubungi tenaga profesional agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.

Biasanya, pengobatan untuk kepribadian antisosial adalah psikoterapi, pemberian obat-obatan antipsikotik dan penstabil mood, atau perawatan di rumah sakit jika gejalanya sudah terlalu parah.

Itulah gejala perilaku antisosial dan cara mengatasinya yang perlu Anda ketahui. Sejatinya, mendeteksi gangguan psikologis pada anak sejak dini memang menjadi langkah yang harus Anda lakukan. Hal ini penting untuk mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang lebih berbahaya saat anak tumbuh dewasa.

Baca Juga :

Subscribe Now!

Dapatkan beragam informasi produk dan artikel menarik Sleep Buddy melalui email Anda. Subscribe sekarang untuk dapatkan promo dan diskon spesial!

About author

Share

Hi! I'm Nisa. I like exploring words towards writing. I love writing about design inspiration, beauty, lifestyle, and parenting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.