7 Dampak Buruk Pola Asuh Overprotektif untuk Perkembangan Anak

7 Dampak Buruk Pola Asuh Overprotektif untuk Perkembangan Anak

Setiap orangtua tentunya ingin memastikan bahwa si buah hati mendapatkan yang terbaik dan menjaganya agar tidak terluka. Kekhawatiran ini tentunya wajar. Namun, bagaimana jika tanpa sadar kekhawatiran Anda ini terlalu berlebihan dan malah menjadi pola asuh overprotektif yang merugikan anak?

Selama ini, orangtua tentunya memiliki insting untuk melindungi dan menjaga anak dari berbagai macam ancaman yang mungkin membahayakannya. Misalnya melarang anak untuk menyentuh benda-benda tajam, atau bermain di dekat area-area tertentu.

Namun, insting untuk melindungi ini terkadang menjadi terlalu berlebihan. Akibatnya, anak bisa merasa tertekan, terkekang, tidak memiliki kebebasan, dan geraknya menjadi terbatas. Hal ini pun dapat berdampak buruk untuk tumbuh kembang anak di kemudian hari.

Lantas, bagaimana cara mengatasi pola asuh overprotektif ini?

Apa Itu Pola Asuh Overprotektif?

Pola asuh overprotektif adalah cara pengasuhan yang terlalu melindungi anak. Biasanya, hal ini terjadi lantaran orangtua terlalu khawatir terhadap adanya risiko bahaya yang akan dialami oleh sang buah hati.

Tipe asuh ini kerap kali disamakan dengan helicopter parenting, yaitu pola pengasuhan di mana orangtua terlalu mengawasi dan memantau anak sepanjang waktu.

Bedanya, overprotektif cenderung muncul dari rasa khawatir berlebihan jika anak mengalami ancaman bahaya atau terluka. Sedangkan helicopter parenting lebih merujuk pada keinginan orangtua agar anak selalu berada dalam pengawasan dan menentukan apa saja yang harus anak lakukan.

Beberapa contoh pola asuh overprotektif di antaranya adalah melarang anak bermain di pekarangan karena takut kotor dan terkena kuman, tidak mau mengajari anak naik sepeda karena takut ia terjatuh, melarang anak berdekatan dengan teman-teman yang dianggap memberikan pengaruh buruk, dan lain sebagainya.

Efek Negatif Pola Asuh Overprotektif

Tahukah Anda bahwa pola asuh ini dapat menimbulkan efek negatif pada psikologis anak? Selain itu, ada beberapa efek negatif lainnya yang bisa timbul dan berdampak buruk pada perkembangan anak.

Apa saja dampak buruk tersebut?

1. Anak Menjadi Penakut

Kekhawatiran dan ketakutan orangtua yang berlebihan tentunya secara tak langsung akan turut membuat anak merasa takut. Akibatnya, anak pun akan ragu dan takut saat melakukan hal-hal yang berada di luar pengawasan orangtua.

Parahnya, hal ini bukan hanya terjadi saat anak masih kecil saja. Rasa takut ini kemungkinan besar akan terus terbawa sampai anak berusia remaja, atau bahkan dewasa karena secara tak langsung telah membentuk kepribadiannya menjadi penakut.

Berdasarkan jurnal Cambridge University Press, anak yang memiliki orangtua overprotektif cenderung tumbuh menjadi pribadi yang introvert, takut mengambil risiko, tidak mempunyai inisiatif, pesimis, berkecil hati, dan tidak percaya diri.

Baca Juga :

 

2. Meningkatkan Gejala Kecemasan atau Anxiety

Penelitian dari University of Reading mengemukakan bahwa kecemasan dan kekhawatiran orangtua juga akan menimbulkan efek signifikan pada anak. Sebab, kekhawatiran orangtua yang terlalu berlebihan akan memengaruhi peningkatan gejala ansietas atau kecemasan pada anaknya.

Penelitian yang melibatkan 90 anak berusia 7-12 tahun tersebut menunjukkan hasil di mana 60 anak mengalami gangguan kecemasan terpengaruh dari kecemasan berlebihan orangtua mereka.

3. Rentan Mengalami Depresi

dampak pola asuh overprotektif

Penelitian di Journal of Child And Family Studie menyebutkan bahwa anak dengan orangtua yang menerapkan pola asuh overprotektif cenderung lebih rentan mengalami stres dan depresi.

Dari 562 orang responden dengan latar belakang yang berbeda-beda, lebih dari 60 persen mengaku memiliki orangtua yang overprotektif membuat mereka merasa tertekan. Bahkan, mereka tidak memiliki kebebasan dalam melakukan apapun dan lebih sering mengalami stres.

4. Membuat Kepercayaan Diri Anak Menurun

Sikap orangtua yang terlalu “over” pada kehidupan anak rupanya juga memengaruhi tingkat kepercayaan diri mereka. Terutama saat anak sudah memasuki usia remaja.

Biasanya, mereka cenderung akan merasa kurang percaya diri untuk bergaul dengan anak lain seumurannya. Dengan kepercayaan diri yang menurun, anak akan lebih rentan mengalami self deprecation, yakni sebuah kecenderungan untuk merendahkan diri sendiri.

Bahkan hal ini juga akan menyebabkan mereka lebih sulit bergaul serta menutup diri saat dewasa kelak.

5. Anak Sulit Mengatasi Masalahnya Sendiri

Overprotective parenting juga dapat membuat anak terlalu bergantung pada orangtua. Akibatnya, anak pun akan mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi.

Hal ini tentunya akan membuat anak selalu mengandalkan orangtua dalam berbagai situasi. Sebab, pola asuh ini membuat orangtua ingin melindungi anaknya sebaik mungkin. Orangtua pun akan melakukan berbagai macam cara untuk membantu anak menyelesaikan masalah mereka.

Akibatnya, anak tidak pernah belajar bagaimana caranya untuk menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Bahkan mungkin hal ini akan terbawa sampai mereka dewasa nanti.

Baca Juga :

 

6. Membuat Anak Menjadi Mudah Berbohong

Pola asuh overprotektif memang cenderung membuat ruang gerak anak menjadi terbatas. Padahal, anak-anak membutuhkan ruang untuk mengeksplorasi hal-hal baru di sekitarnya sebagai bekal untuk tumbuh kembangnya.

Apabila anak merasa terlalu dibatasi, maka tak heran kalau mereka akan lebih sering berbohong agar dapat mencicipi kebebasan dan lolos dari kungkungan orangtua. Selain itu, biasanya anak juga akan lebih sering berbohong apabila mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua.

7. Membuat Anak Takut Merasakan Kegagalan

Overprotective parenting membuat anak cenderung mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. Sebab, anak memiliki kepercayaan diri yang cenderung rendah dan takut mengalami kegagalan.

Saat orangtua terlalu khawatir anak, maka secara tak langsung hal tersebut juga berarti bahwa mereka tidak memiliki kepercayaan pada kemampuan si buah hati. Sehingga, mereka akan melakukan segala macam upaya untuk membantu anak.

Apabila hal ini terus berlanjut, maka anak akan tumbuh dengan rasa takut pada kegagalan. Pola asuh ini juga tidak akan melatih mental anak agar berani. Hal ini pun akan berdampak besar pada pendidikan, karier, bahkan kehidupan sosial anak ketika mereka dewasa kelak.

Cara Mengatasi Pola Asuh Overprotektif

cara mengatasi pola asuh overprotektif

Pada dasarnya, melindungi anak sebaik mungkin memang menjadi hal yang wajar. Namun, jika terlalu berlebihan, maka hal tersebut pun akan memberikan dampak buruk untuk tumbuh kembang buah hati.

Ada sejumlah cara yang bisa orangtua lakukan untuk memperbaiki pola asuh overprotektif terhadap anak. Di mana, nantinya Anda akan tetap bisa memberikan batasan sekaligus kebebasan pada si kecil dengan porsi yang sama.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari overprotective parenting:

1. Jangan Terlalu Mengkhawatirkan Anak

Mengkhawatirkan anak memang wajar. Namun, terlalu mengkhawatirkan setiap gerak-geriknya bukanlah tindakan yang tepat. Sebab, hal tersebut justru membuat Anda secara tak sadar menerapkan pola asuh overprotektif.

Hindari terlalu khawatir atau mencemaskannya. Kondisi ini akan membuat anak merasa bingung dan ragu akan segala hal yang ia lakukan. Jika anak mengalami masalah, maka berikan respons sewajarnya tanpa membuat keadaan menjadi tampak lebih buruk dari sebenarnya.

Baca Juga :

 

2. Ajarkan Anak Berusaha Sesuai dengan Kemampuan Mereka

Seiring dengan pertambahan usia, anak tentunya akan mengalami perkembangan secara bertahap dalam melakukan berbagai macam hal. Maka dari itu, Anda bisa membiarkan mereka berusaha sesuai dengan kemampuan sendiri.

Dengan demikian, Anda pun akan melatih anak untuk mengembangkan kemampuan, mengambil keputusan, serta menerima konsekuensinya sendiri. Yang jelas, Anda hanya perlu memastikan agar anak tidak terluka atau melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan mereka.

3. Selalu Hargai Pendapat Anak

Tahukah Anda bahwa memaksakan pendapat pada anak akan menyebabkan mereka tidak memiliki pendapat dan pendirian pribadi? Oleh sebab itu, cobalah untuk selalu menghargai pendapat anak, meskipun pendapat mereka berbeda dari Anda.

Jika misalnya hal tersebut memang tidak sesuai dengan kebaikan mereka, maka cobalah untuk menjelaskannya secara perlahan. Alih-alih memaksakan pendapat mereka.

4. Mengajarkan Tanggung Jawab

Tanggung jawab menjadi hal dasar yang perlu orangtua ajarkan kepada buah hati agar mereka dapat tumbuh mandiri dan menyelesaikan masalah sendiri.

Cobalah mulai untuk mengajarkan tanggung jawab dari hal kecil. Misalnya mengajarkan mereka untuk membereskan mainan sendiri, meletakkan baju kotor pada tempatnya, dan hal-hal kecil lainnya.

Demikian adalah ulasan mengenai dampak buruk overprotective parenting dan cara mengatasinya. Ingatlah bahwa selain menjaga anak sebagai mungkin, Anda harus tetap memberikan ruang bagi si kecil untuk bebas mengeksplorasi diri tanpa kekangan.

Baca Juga :

Subscribe Now!

Dapatkan beragam informasi produk dan artikel menarik Sleep Buddy melalui email Anda. Subscribe sekarang untuk dapatkan promo dan diskon spesial!

About author

Share

Hi! I'm Nisa. I like exploring words towards writing. I love writing about design inspiration, beauty, lifestyle, and parenting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.